Sabtu siang tanggal 17 Mei 2008 lalu, saat sedang nyalon saya benar-benar kaget mendengar kabar dari radio yang diputar di salon tersebut, si penyiar mengatakan bahwa Sophan Sophian tewas dalam sebuah kecelakaan di Sragen. Seketika suasana salon menjadi ramai, para pelanggan dan capster saling memberikan komentar atas berita yang baru saja kami dengar itu. Hampir semua komentar yang saya dengar siang itu sama yaitu "Widyawati dan Sophan Sophian memang soulmate".
Sepulang dari nyalon saya melanjutkan kegiatan saya mengantar anak sulung saya ke tempat les, sore itu jadwal Maura untuk les keyboard dan vocal. Saat menunggu Maura les, saya bertemu dengan seorang teman lama dan kami ngobrol dengan topik tewasnya Sophan Sophian, dan teman ini juga berkomentar sama seperti komentar yang saya dengar di salon siang tadi "Wah Widyawati dan Sophan Sophian itu memang jodoh ya .... selama pernikahan mereka selalu romantis, tidak pernah ada gosip miring yang menimpa mereka, sayang banget ya meninggalnya kok tragis banget gitu."
Lalu teman ini bertanya pada saya "Menurut kamu suamimu itu jodohmu bukan?" wah..wah... pertanyaan seperti ini sebenarnya pertanyaan yang gampang-gampang susah ya untuk dijawab. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa suami atau istri kita belum tentu jodoh kita, namun ada juga sebagian orang yang percaya bahwa suami atau istri yang kita pilih adalah memang jodoh kita. Dan demi untuk ketenangan diri sendiri, maka saya lebih memilih untuk sepakat dengan pendapat kedua, dari pada saya yang notabene sudah mempunyai 2 orang anak harus terus disibukkan untuk mencari jawaban atas pertanyaan seperti itu. Maka pertanyaan si teman ini saya jawab "Tentu saja..." teman saya lalu mengatakan bahwa saya sangat beruntung karena bisa mendapatkan suami yang memang jodoh saya dan tidak seperti dia yang tidak bisa menikah dengan orang yang menjadi jodohnya.
Wah ternyata teman saya ini masuk pada kelompok pertama yang percaya bahwa belum tentu orang yang kita pilih sebagai suami atau istri adalah memang jodoh kita dan biasanya (menurut pengamatan dari pengalaman beberapa teman) orang yang masuk dalam kelompok ini memang sedang memiliki masalah dalam hubungan dengan pasangan dan sedang terlibat dalam suatu hubungan terlarang. Demi untuk mengisi waktu menunggu dan untuk membuktikan apakah asumsi ini benar, maka dengan iseng dan penuh penasaran saya mencoba bertanya kepadanya kenapa dia merasa bahwa suaminya bukan jodohnya, mulailah teman ini menceritakan masalah yang tengah dihadapinya, bahwa suaminya kurang perhatian, bahwa suaminya selalu memperlakukannya se-enaknya, bahwa suaminya tidak pernah mendukung dia, bahwa suaminya tidak pernah sependapat dengannya, bahwa hampir setiap hari mereka selalu bersitegang, dan masih banyak lagi bahwa bahwa yang lain. Saya perhatikan teman ini begitu bersemangat menceritakan semua hal tentang suaminya yang menurutnya tidak sesuai dengan keinginannya. Cerita terus berlanjut seputar ketidakpuasannya terhadap si suami sampai akhirnya terjawablah rasa penasaran saya, bahwa sumber dari segala persoalan dalam rumah tangganya adalah karena saat ini dia sedang sangat dekat dengan seorang pria lain yang menurutnya sangat "care" terhadapnya, sangat perhatian tidak saja pada dirinya tapi juga pada anak-anaknya, sangat mengerti dia dan masih banyak sangat-sangat yang lain yang merupakan kebalikan dari sifat suaminya.
Mendengar cerita itu, maka saya tersenyum dan berkata dalam hati "wah..wah... jangan-jangan asumsi itu benar ya ?"
Lalu si teman meminta pendapat saya, mengenai permasalahan yang dia hadapi dan saya hanya mengatakan kepadanya bahwa semua yang dia keluhkan tentang suaminya, juga saya alami, bahwa semua yang dia lihat kurang dari suaminya juga saya lihat pada suami saya, bahwa semua yang dia rasakan pada suaminya juga saya rasakan, namun bedanya karena saya tidak mencoba membandingkannya dengan orang lain dan tidak mencoba mencari perbandingannya dari orang lain, maka semua itu tidak menjadi persoalan yang berat dalam perkawinan saya.
Dalam perjalanan pulang saya pun berpikir, sedemikian dangkalnya kah arti "jodoh atau soulmate itu????" bagi teman ini.
Jika pasangan kita selalu sependapat dengan kita, selalu mengerti kita, selalu akur dan tidak pernah cek cok dengan kita maka dapat dikatakan dia jodoh kita, namun sebaliknya jika pasangan kita tidak lagi seperti yang kita inginkan maka pasangan kita bukanlah lagi jodoh kita. Jika memang begitu berarti kita baru tahu jodoh kita setelah kita menikah ya ? Setelah menikah ternyata merasa tidak berjodoh kita bisa bercerai dan menikah lagi dengan orang lain yang kita kira bisa jadi jodoh kita. Celaka sekali jika ternyata setelah menikah berulang-ulang ternyata kita tetap tidak juga bertemu dengan jodoh kita karena bagaimanapun kita tidak akan bisa menemukan orang yang mempunyai selera, pemikiran dan persepsi yang bisa sama persis dengan kita.
Miris sekali jika memang pemikiran itu yang ada dalam benak si teman ini, karena akhirnya arti seorang pasangan tidak ubahnya dengan baju, sepatu, accesories dll yang pada awal kita beli terlihat sangat indah dan cocok dengan kita, namun tidak lama kemudian ketika kita mulai bosan Barang-barang tersebut akan terlihat sangat jelek dan tidak cocok lagi dengan kita.
Bercermin dari perjalanan pernikahan Sophan Sophian dan Widyawati, saya sangat yakin bahwa perjalanan hubungan mereka sebagai suami istri pun tidak mungkin hanya mulus mulus saja tanpa ada pertengkaran dan ketidaksepahaman, karena setiap hubungan kita dengan pasangan pastilah akan ada hal-hal yang membuat kita tidak sependapat dengannya, hanya saja kembali kepada cara kita melihat perbedaan itu. Jika setiap pertengkaran dapat kita akhirnya dengan suatu perdamaian, nrimo dan tidak saling menuntut, justru perhatian akan kita dapatkan dari pasangan sebagai imbalan atas pengertian kita. Ini sih pengalaman saya.
Monday, May 26, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment